Kamera Mirrorless Murah Hasil Memukau | Review CANON M200 Indonesia

Konten [Tampil]

Kamera Mirrorless

Pada artikel kali ini Saya mau sedikit membahas tentang opsi Kamera Mirrorless Murah Hasil Memukau | Review CANON M200 Indonesia yang cukup budget friendly buat temen-temen yang mau belajar untuk menciptakan karya foto maupun video.

Kamera Mirrorless Murah Hasil Memukau | Review CANON M200 Indonesia

Canon eos-m 200

Canon eos-m 200 yang ketika artikel ini dibuat dia dijual seharga 6.999.000 rupiah untuk versi kit dengan lensa 15-45 mm. Dan saat ini ada on-going promo pada beberapa toko menjadi 6.499.000 aja tapi yang menarik kamera ini dijual dengan versi kit saja ada kit 1 dan juga kit 2 yang saya sebut tadi adalah harga kit satunya.

Jadi kalian nggak bisa beli versi body only nya doang by the way di sini Saya pakai lensanya yang lumayan width yaitu 11-22 mm ini adalah salah satu lensa favorit Saya buat sistem EFM karena memberi karakter gambar yang width khas kaya picture making banget, cuman ya harganya juga lumayan udah deket sama harga kameranya.

Jadi ya sedikit informasi aja biar enggak salah tanggap selama reviewnya kamera ini sebenarnya bukan kamera baru udah cukup lama beredar di Indonesia tapi mumpung Saya dapet kesempatan buat minjem dari Canon Indonesia jadi saya rasa enggak ada salahnya buat kita bahas, walaupun udah banyak review lainnya.

Tapi Saya harap ini bisa jadi referensi tambahan aja.

Kita bahas impresi fisik dulu kamera ini terbilang compact banget dengan desain yang serba minimalis. Buildnya terasa proper tapi karena dia adalah kamera entry level ya jangan expect feel yang premium juga.

Ketika digunakan kamera ini enggak memiliki Surface Soft Touch ketika digenggam dia cuma ada Surface bertekstur aja di sekelilingnya yang menggunakan bahan keras juga jadi enggak ada tekstur karet sama sekali.

Ergonomi juga jelas bukan termasuk kamera yang enak buat digenggam karena ukurannya yang terbilang sangat compact juga, kita enggak mendapatkan grip depan dan hanya mendapatkan sedikit lekukan untuk tank support di sisi belakang.

Kontrol fisik yang diberikan juga minim banget jadi agak sulit buat pengontrolan setting exposure secara cepat, tapi karena ini adalah kamera Canon otomatis touch control melalui layarnya udah sangat responsif dan sangat berguna.

Lehernya juga udah bisa difflib kedepan buat temen-temen yang mau shoot dirinya sendiri. Buat foto Ini asyik gampang buat dibawa-bawa kemanapun kita pergi karena ukurannya yang compact banget. Dan hasil gambar yang diberikan oleh Sensor APSC 24.12 pixelnya pun udah terbilang proper untuk sebuah mirrorless aps-c.

Warnanya terbilang cukup natural dan cakep khas kamera Canon dan autofocus pun udah bisa diandalkan karena dia udah membawa dual pixel atau fokus juga kalau untuk foto objek cepet sih mungkin masih kurang karena kamera ini enggak terlalu cepat dari segi berasnya dia cuma bisa sampai 6,1 frame per second kalau dengan manual fokus atau oneshoot fokus, tapi cuma sampai 4 FPS aja kalau dengan continuous auto-focus.

Oke ini mode Birds kalau pakai manual fokus atau focus One Shot dia 6,1 fps, lalu kita ubah ke kode servo atau continuous auto-focus dia jadi 4 FPS doang. Dan mungkin sekarang biar lebih jelas soal kualitasnya Saya mau tunjukin dulu beberapa hasil foto yang diambil menggunakan kamera ini yang dipadukan dengan lensa 11-22 mm nya.

Nah sekarang kita bahas fitur videonya yang udah ditunggu-tunggu oleh para calon content Creator di masa depan.

Kamera ini mampu merekam Video up to 4K 24fps tapi sama seperti yang 50/100 jangan beli kamera ini kalau tujuan kalian adalah merekam Video 4K karena menurut Saya 4K nya ini enggak bisa diandalkan, jadi mode 4K dia ada cropping pada framming video kita jadi lebih sempit dan performa autofocus juga menurun karena dual pixel AF nya bakal mati.

Dan Kalian juga harus paham kalau cropping ini bukan cuma berpengaruh ke framming yang menjadi lebih sempit aja tapi karena permukaan sensor yang digunakan juga menjadi lebih kecil akan berpengaruh pada overall kualitas gambarnya juga.

Seperti performa low light yang jadi lebih buruk sehingga dicahaya yang lebih gelap nulisnya lebih banyak dan rolling shutter yang semakin massif. Jadi kalau kalian nengok-nengok gambarnya tuh kayak gini, seperti efek yang ada lagunya seperti yang ada di Tik Tok.

Kita lupakan aja soal 4K nya dan berfokus hanya pada resolusi full HD kamera ini mendukung perekaman full HD di itu hingga 60 frame per second tapi Saya pribadi cuma pake di 30fps aja menyesuaikan dengan workflow Saya.

Dan video performance VHD atau Full HD ini terasa udah sangat mumpuni hasil video terlihat proper warna bagus autofocus bisa diandalkan dan yang Saya suka adalah kombinasi dengan lensa 11 m ini karena memberi ruang gambar yang luas banget buat vlogging ala-ala.

Salah satu improvement dari M100 yang sebelumnya di M200 ini adalah dia udah bisa membuat video vertikal secara instan, jadi kalian bisa tinggal rekam video secara vertikal dan kamera akan mendeteksi kemiringan kamera dan akan membuat file hasil artikel yang langsung vertikal juga, jadi kalian bisa langsung transfer ke HP dan upload ke sosial media secara effortless.

Canon juga memberikan icon untuk memperjelas arah kemiringan kamera kalian saat membuat video vertikal, sebenarnya fungsinya enggak terlalu banyak sih cuma buat mastiin aja kalo kamera kalian mendeteksi perekaman mode vertikal ketika kalian memiringkan kamera.

Experience nya buat aplikasi smartphone juga udah oke, apalagi ini adalah kamera Canon kalian bisa transfer gambar dengan gampang dan bisa kontrol kameranya juga dan memang aplikasi kamera Canon di Android ataupun iPhone itu adalah termasuk one of the best app untuk pengontrolan kamera.

Tapi dari semua hal yang baik tadi kamera ini masih memiliki beberapa kekurangan yang cukup besar nih buat workflow Saya.
  1. Tidak adanya mic input untuk menggunakan mic eksternal sehingga kalau kalian mau kualitas audio yang bagus kalian harus pakai recorder terpisah kayak pakai HP kalian atau pakai Hendi audio recorder kaya produknya Zoom atau tes camp
  2. Kamera compact ini terkesan agak kentang aja karena kita masih harus bawa-bawa charger baterainya karena dia masih menggunakan port micro USB yang tidak mendukung pengecasan baterai.

Dan menurut Saya dua hal tersebut menjadi pertimbangan berat buat gue pribadi tapi mungkin karena harga yang ditawarkan cukup over tebel mungkin masih bisa dimaafkan.

Tapi balik lagi kalianlah yang menentukan soal worthed atau enggaknya, kalau menurut Saya kamera ini termasuk best entry level kamera option yang bisa kalian beli di harga tersebut apalagi buat mula. Kamera ini termasuk Easy to Use dibandingkan para pesaingnya di harga tersebut.

Oke paling segitu aja buat artikel kali ini kalau ada koreksi saran atau pertanyaan tulis aja semuanya di kolom komentar dan jangan lupa juga buat share ke yang lainnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama